Senin, Juli 21, 2008

Sepeda : Segar Bugar

Sabtu 19 Juli 2008 sejak subuh dini hari hujan deras terus membasahi tanah di Teluk Tapian Nauli. Dijadwalkan pagi ini akan dilaksanakan acara bersepeda ontel ke rumah rekan kami yang bernama Tua. Sejak jam 05.30.00 Wib kami mulai saling SMS-an untuk memastikan acara bersepeda gaek pagi ini tetap dilanjutkan, cuma waktu keberangkatannya saja yang di tunda. Do’a yang dipanjatkan oleh para onhtelis akhirnya terkabul, hujan reda juga.

Sebanyak 8 (delapan) orang ontelis Kota Sibolga yakni : Amir Hamzah, Zulfahri (teropongkaca.com), Donal, Julianus, Dian_naid, Rio, Iwan_Kantin, Putra Lubis mulai berangkat sekitar jam 11.00 Wib. Titik kumpul keberangkatan adalah rumah Bapak Amir Hamzah yang juga didaulat sebagai ketua rombongan kali ini. Setelah menjalani rute sekitar 10 KM kami sampai di rumah sahabat kami yang bernama Tua (bukan sepeda tua maksudnya tapi kami memanggilnya demikian). Suasana alam pedesaan langsung terpancar dari sekitar kediaman tersebut. Sangat mudah dijumpai kerbau, burung bangau, bebek, angsa di hamparan sawah yang membentang luas di permadani alam itu.



Wandi_Sang Pengagum ternyata telah tiba di kediaman Tua dengan mengendarai sepeda ontel modern (sepeda motor). Onthelis disambut oleh sahabat kami Tua dan Istri (Sri). Sesampainya di kediaman Tua yang asri dan nyaman ternyata para onthelis mulai aktifitas masing-masing. Beberapa ekor ayam langsung dipenggal lehernya untuk dijadikan santapan siang itu. Kayu arang mulai dinyalakan sebagai persiapan pembakar ayam yang akan disajikan. Istri Pak Tua (bernama Sri) juga sibuk di dapur membersiapkan bumbu terbaik dan terlezat. Canda dan tawa keakraban tercipta dalam susana harmonis sesama penggemar sepeda tua di Pantai Barat Sumatera ini.



Sesuai dengan koridornya matahari siang telah tepat diubun-ubun, perut mulai mengalunkan musik alam sebagai tanda sudah keroncongan. Dengan sigap dan tangkas 12 (dua belas) ekor ayam panggang yang telah diracik dengan bumbu istimewa menjadi hidangan kebesaran siang itu. Hidangan ayam bakar disikat habis oleh semua rekan-rekan. Dampak nyata yang langsung dirasakan adalah keringat yang bercucuran pertanda perut sudah nyaman. Hidangan air kelapa muda juga menjadi minuman andalan kali ini, sedap nian rasanya...!!!

Jalanan di kaki gugusan pegunungan Bukit Barisan adalah rute alam yang lalui dalam bersepeda ontel kali ini. Jalanan menanjak tinggi, juga jalan menurun curam menjadi menjadi lintasan mengasyikan dan tantangan yang mendebarkan, resikonya bisa-bisa bibir kita mencium tanah karena jatuh dari sepeda kalau tidak hati-hati. Keamanan bersepeda perlu diperhatikan.





Gunung Batubatara bila diperhatikan dari kejauhan terlihat sepeti susunan istana para raja-raja. Struktur batu kapur berwarna putih seolah memancarkan magnetnya mendorong onthelis menyempatkan diri untuk mengabadikan lokasi ini. Dengan latar belakang gunung Batubatara serta aliran sungai Sipansipahoras, jiwa-jiwa ontelis kembali memancarkan senyuman.






Menyebarangi sungai Sipan Sipahoras yang membentang luas adalah aktifitas yang sangat dirindukan. Sepatu ditenteng, ujung celana pancang dilipat, merupakan siasat jitu agar tidak basah kuyup dari percikan air yang mengalir.Aliran darah ontehis langsung bergejolak begitu kaki mencecahkan di air Sungai Sipan Sihaporas. “Segar Bugar ...!!!”








Tawa, Canda, kekaraban dan solidaritas yang tinggi adalah hal yang selalu didapat dalam bersepeda onta. Suasana ini selulu menghinggapi jiwa dalam setiap acara bersepeda tua. Sepeda tua obat mujarab untuk selalu “Segar Bugar...!!!”

Label:

Senin, Juli 14, 2008

Senyuman di Atas Sepeda


Kring...kring...Yeeessssssssss,

ketika onthel tua kukayuh kuperhatikan lirikan kecil mata-mata polos di pinggiran jalan. Dengan bangganya semakin ku kayuh ontelku, dadaku busungkan dengan sedikit ku tebar senyuman tipis, dan kubunyikan dering harmoni kebanggaanku....

kringgggg...kringggggg...kringggg.........

By : Halim

Label:

Rabu, Juli 09, 2008

Teropong Kaca: Bersepeda Ke Pantai Pandan

Teropong Kaca: Bersepeda Ke Pantai Pandan

Label:

Senin, Juni 23, 2008

Bersepeda Ke Pantai Pandan

“Kring...Kring...!!! SGBC....!!! Yes....!!!”

Hari minggu, 22 Juni 2008 kedati menjelang subuh Kota Sibolga diguyur hujan deras ternyata tidak menyurutkan hari para onthelis Sibolga Gaeck Bicyle Club (SGBC) untuk melakukan aktifitas touring wisata ke Pantai Pandan yang berjarak sekitar lebih kurang 10 Km dari pusat Kota Sibolga. Sekitar jam 06.30 bertitik tolak dari pelataran parkir Stadion Horas sekitar sektar 50 orang pecinta sepeda tua di Kota Sibolga dibawah binaan Afifi Lubis yang juga Wakil Walikota Sibolga bergerak menyusuri jalan SM.Raja menuju Pantai Pandan tepatnya Hotel Bumi Asih.

Kayuhan irama para anggota SGBC beriring berjalan mengendarai sepeda unto sambil sesekali bercanda dengan rekan lainnya. Keunikan yang nyata dirasakan saat salah seorang peserta touring Abdi Chussy memutar musik dengan irama india melalui MP3 dibantu dengan loudspeaker menggelegar membuat perjalanan menjadi meriah dan santai. Sesekali onthelis bergoyang di atas sepeda sambil mengikuti irama musik yang berdendang dan mendayu-dayu.

Setibanya di Pantai Pandan-Hotel Bumi Asih peserta penggemar sepeda tua di kawasan Pantai Barat Sumatera ini dengan cekatan dan sigap memparkirkan sepeda masing-masing di palataran yang cukup luas dan asri. Tanpa dikomandokan dan seperti sudah menjadi kebiasaan para anggota SGBC untuk menyusun dan merapikan tata letak parkir sepeda, terlihat jajaran sepeda yang rapi dan mempesona.

Untuk melonggarkan otot dan urat yang tegang karena telah menempuh perjalanan sejauh 10 KM para onthelis Kota Sibolga ini menyempatkan diri untuk mengikuti pendinginan tubuh secara bersama-sama. Acara pendinginan dan peregangan tubuh ini dipandu salah seorang peserta. Tampak guyonan dari para peserta karena teknik yang diajaran oleh sang instruktur tak jauh beda dengan latihan sepak bola. Ada peserta tersenyum-senyum karena ada yang menghitung 1 sampai 8 dengan berbagai ragam bahasa. Ada yang menghitung pakai bahasa Inggirs, ada juga yang menggunakan bahasa Sibolga.Macam-macamlah gaya tingkah laku peserta.



Disaat perut keroncongan seperti yang sudah-sudah menu “mie gomak” ala Sibolga plus nasi lamak adalah menu favorit para perserta. Disajikan oleh dua orang srikandi cantik yang didaulat sebagai pramusaji dadakan menambah keakraban perserta. Dengan lahap peserta melibas habis tanpa tersisa hidangan yang tersedia. Konsumsi ini dipersiapkan oleh pengurus bidang “Salero” ogek Ujang.



Setelah kenyang mengisi perut, masing-masing perserta touring mencari aktifitas masing-masing. Ada yang menyusuri pantai, ada juga perserta bercanda dan berdiskusi kecil membahas perkembangan sepeda. Sementara itu terlihat peserta wanita berputar-putar mengendarai sepeda ontel menikmati suasana pantai yang membentang luas.




Pagi mulai berlalu matahari siang pun menjelang memancarkan cahaya, peserta touring kembali ke Kota Sibolga dibawah guyuran hujan gerimis. Semakin deras gerimis, semakin kuat pula kayuhan sepeda unto anggota SGBC. Tubuh yang segar dan bugar menghinggapi para onthelis Kota Sibolga.

“Kring...Kring...!!! SGBC....!!! Yes....!!!”

Label:

Senin, Mei 26, 2008

Bersepeda di “Jalur Senyum”




Senyum adalah obat hati, senyum juga penyehat jiwa. Aliran darah berjalan sesuai dengan koridornya bila hati dan jiwa mendapat obat yang berasal dari senyuman. Hal inilah yang didapat pada hari minggu, 25 Mei 2008 pada saat awak teropongkaca dan rekan sejawat bersepeda dan mencoba rute baru yang belum pernah dilalui pada acara touring sebelumnya. Rasa persahabatan dan kekeluargaan terpancar dari raut wajah dan senyum manis warga masyarakat kepada ontelis mania.



Rombongan touring di “Jalur Senyum” adalah Iwan Jambak (wawan_onhtel), Budi MD, Thoib (talkote), Rio_Torusso, Donal (awank_alunk), Julianus (ooe_hutagalung) , Dian (naid), Fahri (teropongkaca), , Bertitik start dari kediaman Budi MD di Jalan Rasak pada minggu pagi perjalanan bersepeda dimulai sekitar jam 06.35 Wib.

Sepanjang jalan setiap warga yang melihat aksi dan gaya para ontelis terlihat tersenyum dan menunjukkan antusias yang tinggi atas keberanian dan kenekatan bersepeda tua di zaman modern ini. Terlihat senyum-senyum persahabatan dari masyarakat, malah ada seorang ibu yang berteriak-teriak memanggil para keluarganya dari dalam rumah khusus untuk memberikan aplus kepada onthelis. Juga ada sepasang suami istri ketika melihat onthelis melintas menyesalkan suaminya karena telah menjual sepeda onhtel mereka beberapa tahun yang lalu, hal ini terlontar dari percakapan mereka yang didengar oleh teropongkaca. Mungkin mereka berfikir dalam hati, seandainya dulu tidak dijual bisa gabung dengan onthelis dalam acara touring ini.


Rute yang ditempuh adalah Sibolga–Pandan-Pantai Indah Kalangan melalui jalan SM Raja-Padang Sidempuan dan berakhir di pemandian alam Air Terjun Sibuni-buni, Sipan Sipahoras. Di Pandan onthelis istrahat sejenak mengisi bahan bakar perut yang mulai keroncongan. Hidangan sate ditambah teh manis hangat menambah tenaga rekan sejawat.

Setelah menikmati hidangan sate kembali perjalanan dilanjutkan ke Pantai Indah Kalangan. Di lokasi objek wisata pantai ini, onthelis memperbanyak aksi berfoto ria. Segala aksi dan gaya diabadikan melalui camera hp yang seadanya. Bergaya dengan sepeda tua di objek wisata ini kembali mendapat sambutan hangat dari para pengunjung pantai ini, apa lagi disaat gadis-gadis remaja pengunjung yang kebetulan sudah tiba sebelumnya memberikan ancungan tangan sebagai tanda pemberi semangat dan juga senyum ramah ibarat doping di pagi hari rasanya bagi onthelis.

Dari Pantai Indah Kalangan touring dilanjutkan kembali ke Arah Jalan pesantren Pandan. Rombongan istrahat sejenak di rumah rekan “Tua” yang baru saja seminggu mendiami rumahnya. Kesempataan ini tidak disia-siakan oleh Thoib (talkote) untuk bergaya bak foto model dengan suasana alam dengan belakang oleh kerbau yang lagi digembala di padang rumput. Thoib (talkote) berusaha menampilkan senyum termanis yang dimilikinya kendati memilki rasa cemas yang dalam, takut ditanduk dan diserobot kerbau dari belakang.


Disepakati oleh tim touring perjalanan dilanjutkan menuju pemandian alam Air Terjun Sibuni-buni, Sipan Sipahoras melalui jalan terminal baru. Di jalan terminal baru Thoib (talkote) mencoba untuk beratraksi dengan gaya ekstrim.

Berdiri di atas sepeda yang melaju bersamaan mengendalikan stang dengan tangan kiri dan tangan kanan satunya lagi memegang jerigen berisi bensin sebagai ekspresi kekecewaan atas kenaikan harga BBM, adalah aksi populer yang dilakukan oleh Thoib Talkote, sehigga mengundang decak kagum orang yang melihatnya.


Akhirnya peserta touring sampai di pemandian alam Sibuni-buni-Sipan Sipahoras. Rekan-rekan onthelis menikmati hawa sejuk yang tercium dari pepohonan rindang. Asyik juga rasanya di lokasi ini berdendang dan berjoget ria. Dengan menggunakan gitar Donal, Thoib, dan olah vokal oleh Rio,Julianus dan Dian (naid) mencoba untuk mencairkan suasana mendendangkan lagu-lagu bersyair gembira.

Rasa lelah dan letih melewati jalan yang berliku,bergelombang dan berbukit-bukit hilang seketika saat tubuh ini dihempaskan kedalam air yang terbentuk seperti kolam renang alam ini. Sangat segar terasa dingin air yang jatuh dan mengalir dari atas air terjun mengusuk badan yang pegal-pegal, ini adalah pijatan alam yang tak ternilai harganya.

Setelah berendam beberapa saat dan bernyanyi di lokasi air terjun menjelang tengah hari sekitar jam 12.00 onthelis permisi mohon pamit pulang kepada ibu penjaga air terjun. Ibu yang berusia setengah baya itu menyatakan terima kasihnya atas kedatangan onthelis ke daerah wisata ini dan berpesan agar membawa rekan-rekan dalam jumlah yang lebih banyak lagi.


Dengan hati gembira yang tak terlukiskan rombongan kecil onhtelis kembali melewati jalan pegunungan yang berbukit menuju menuju Kota Sibolga. “Berseda di Jalur senyum” adalah merupakan rute yang sangat memuaskan dan mengesankan bagi rekan-rekan onthelis yang mengikuti touring ini.

Bagi rekan-rekan yang berminat dalam acara touring selanjutnya ditunggu kesediaannya.Tujuan touring ini adalah untuk menambah keakraban, kekeluargaan dan memelihara nilai sejarah sepeda onthel sebagai benda seni

Label:

Rabu, Mei 21, 2008

SGBC Ayo Bangkit ( Bagimu Negeri)

Momen 20 Mei sebagai momen peningkatan rasa nasionalisme perlu tetap dipelihara dan dijaga dalam sanubari insan warga negara indonesia dimana pun berada. Kebangkitan nasional sebagai tonggak sejarah kebangkitan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia adalah merupakan tiang pilar yang harus kita pagari dan lestarikan.

Dalam rangka mengenang dan membangkitkan gelora Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei penggemar sepeda tua di Kota Sibolga melakukan Touring Keliling Kota Sibolga pada tanggal 20 Mei 2008 yang lalu. Dengan touring kota yang dilakukan diharapkan para anggota Sibolga Gaeck Bicycle Club (SGBC) semakin menjiwai makna kebangkitan nasional tersebut juga menggugah rasa kebangsaan dari masyarakat. Kegiatan touring ini juga disponsori oleh Djarum Black. Setiap peserta mendapat baju warna hitam sebagai ciri khas Djarum Black.


Kegiatan touring mengambil titik kumpul dan start dari depan Kantor Walikota Sibolga / Lapangan Simaremare sekitar jam 07.40 WIB. Tampak diantara peserta touring Wakil Walikota Sibolga H.Afifi Lubis, SH, ketua SGBC H.Safwan Pohan, Soritua Hasibuan, Basyar Sibarani, Difa Advertising, Ujang, Ucok sepak bola, Sutopo Maeda, Abdi Chussi, Srasamaluddin, Rizal Fahri Lubis. Juga tampak Sutan Lubis, Nuzar Carmina, Abdul Rasyid Silitonga.

Peserta touring adalah anggota SGBC yang merupakan komunitas penggemar sepeda tua di Kota Sibolga yang terdiri dari berbagai kalangan masyarakat dan dari berbagai profesi yang berbeda.

Dan yang tak kalah menarik diantara perserta tampak juga seorang peserta wanita yakni Maya, dia adalah merupakan anggota wanita pertama dalam komunitas penggemar sepeda tua di Kota Sibolga, mungkin hal ini akan mendorong srikandi-srikandi selanjutnya untuk bergabung dalam SGBC.


Agar perjalanan tidak mendapat rintangan dan hambatan, dilakukan doa bersama. Sesuai dengan arahan dari Sekretaris SGBC jalur touring adalah : Start dari depan kantor walikota, Jl. Kapt Sitorus, Ade Irma Suryani, Dolok Martimbang, DI. Panjaitan, Sutoyo Siswomiharjo, SM.Raja, Jl. Kader Manik, Jl. MS.Sianturi, Jl.Rajawali, Jl. KH.Ahmad Dahlan, Jl.Bangau, Jl.Merpati, Jl.Jati, Jl.Mojopahit, Jl.R.Suprapto, Jl. Putri Runduk, Jl. S.Parman, Jl.Brigjen Katamso, Jl.Ahmad Yani, Jl.Diponegoro, kembali ke Jl SM.Raja –Tanggo Saratus (objek wisata Kota Sibolga).

Dengan mengenakan baju kaos yang di sisi belakangnya terdapat gambar sepeda onthel dan lambang dari pihak sponsor sekitar jam jam 08.30 WIB peserta singgah sebentar untuk sarapan pagi di jalan Bangau. Aneka makanan ciri khas masakan pesisir sajikan oleh penyedia sarapan pagi, ada mie gomak, nasi lamak, katupek bare plus minuman kopi dan teh manis hangat menambah suasana keakraban di antara peserta. Musidi yang tampil dengan blankon tampak modis dengan kaca mata jadulnya juga Charlie Simanbela bersama pak dokter Tunggul Sitanggang sangat menikmati makanan yang terhidang menambah nafsu makan rekan-rekan onhtelis.

Rute perjalanan touring di Kota Sibolga berakhir di Tanggo Saratus yang memiliki suasana sejuk di kaki bukit yang terletak di jantung Kota Sibolga. Bau gunung, air dan suasana lembab tercium dari aroma Tanggo Saratus sebagai ciri khas daerah pengunungan. Peserta melakukan foto bersama yang diabadikan oleh Thoib “Talkote” yang merupakan insan photografi berbakat. Tampak peserta menampilkan senyum terbaik masing-masing untuk diabadikan. Senyum kearaban dan persaudaraan sesama insan pecinta sepeda tua.


Selanjutnya peserta memajang dan memparkirkan sepeda ontel di pelataran parkir yang tersedia, tampak kesibukan peserta saling mengamati dan berkomentar tentang sepeda yang dimiliki ataupun sepeda kepunyaan rekan-rekan.Terdengar canda ringan dan penuh persaudaraan dari perserta touring menambah keakraban yang terjalin kendati matahari pagi sudah beranjak ke atas memancarkan sinar yang mulai panas menjelang siang.

Di Bawah bukit Tanggo Saratus acara dipandu oleh MC kawakan “Taufik” yang suaranya sudah akrab di masyarakat dan selalu mengudara di angkasa Sibolga. Sebagai pembawa acara kawakan beliau dengan humor dan cerdas dapat mencairkan suasana yang sebelumnya kelihatan terlalu tegang. Ogek Taufik mempersilahkan Sekretaris SGBC untuk memberikan kata sambutan.Sang sekretaris Zulkifli tak kalah lihai dalam menguasai keadaan yang berlangsung. Sekretaris Zulkifli memaparkan tentang program kerja komunitas pecinta sepeda tua kedepan, juga aksesoris mulai jaket,topi,sepatu dan baju kebesaran khas SGBC.


Dalam suasana hari kebangkitan nasional, ada satu momen yang sangat mengharukan dalam touring ini. Pak Nuzar mengajak peserta untuk menyanyikan lagu”Bagimu Negeri”. Peserta touring berdiri bersama menyanyikan lagu pembakar rasa nasionalisme tak ubanya seperti diberi bahan bakar gas elpiji yang harganya mulai membubung tinggi panas membara. Tampak rasa haru disetiap insan SGBC yang menyanyikan lagu tersebut dengan suara kompak kendati tidak pernah malakukan gladi sebelumnya sebagaimana group vokal group kebanyakan yang akan berlaga tanding. Dari raut wajah yang terpancar dapat ditangkap betapa cinta kita kepada bangsa dan negara ini dan siap mengorbankan jiwa dan raga. Dari bola mata peserta yang jernih kelihatan rasa nasionalisme yang mendalam dan membumi.


Ekspresi ini kelihatan betul dari wajah-wajah Rio Torusso, Budi MD, Iwan Jambak, Zaitul Ikhlas, Halim (peduli kota), Amir Hamzah, Amin Komputer dan rekan-rekan muda lainnya. Lagu Bagimu negeri dinyanyikan sampai tiga kali dengan penuh antusias dan semangat juang yang tinggi. Sungguh ini pengalaman yang sangat mengesankan dan tak terlupakan karena terbawa dalam suasana juang 45.



Rupanya panita sangat lihat dan pandai memadu acara. Untuk menghilangkan kejenuhan setelah bersepeda, peserta touring menikmati lantunan tembang-tembang manis yang mengalir dari Keyboard dan juga suara merdu biduanita. Rupanya peserta touring tidak mau ketinggalan, mereka juga menampilkan aksi-aksi panggung yang mempesona. Tanpa terasa semua peserta berjoget dan berdendang mengikuti alunan musik yang menggoyang dan menggetarkan jiwa apalagi pada saat Cici dan Adek pasukan dari tanggo saratus turut berdendang.Aksi dendang semakin menggelora setelah peserta menikmati acara santap makan siang bersama.

Akhirnya menjelang jam 14.00 saat matahari sudah di atas ubun-ubun, MC menyudahi acara, peserta kembali kerumah masing-masing untuk memulai aktifitas sehari hari dengan semangat “BAGIMU NEGERI JIWA RAGA KAMI”..........…!!!!

Label:

Jumat, Mei 09, 2008

Ngontel di Kota Sibolga

















“Cihuy……!!!.....ini baru seru namanya”.
Semua orang baru mulai mikir-mikir untuk melakukannya tetapi yang satu ini sudah menerapkannya. Yang lain masih dalam tahap berangan-angan dalam dunia hayal tetapi Bapak ini telah mengaplikasikannya seperti aplikasi komputer. Tentu rekan2 sejawat bertanya–tanya ada apa gerangan gebrakan yang telah dilakukan.

Hari ini sekitar jam 10.00 Wib terlihat sebuah sepeda ontel warna hitam memasuki Perkantoran Walikota Sibolga di Jl. FL. Tobing. Dengan tampilan sadel merah maron, ban putih, pedal warna hitam sungguh terlihat kokoh dan mempesona orang yang melihatnya. Lingkar dan stang berkilat kinclong memantul diterpa sinar mentari memperkuat karakter orang yang mengendarainya bahwa pengendaranya adalah bukan orang biasa.
















“Kring….kring…….kring…..,” alunan bel sepeda melantun merdu.
“kring…kring…kring……”

Siapa gerangan orang yang mengendari sepeda ontel itu.Wow…ternyata pengendaran sepeda onthel adalah Bapak Soritua Hasibuan, Kepala Dispenda Sibolga. Mengenakan baju Warna kuning cream dan dipadu dengan celana warna coklat tua yang merupakan pakaian seragam dinas, plus ditambah dengan sepatu mengkilat. Pak Hasibuan mengendarai sepeda memasuki perkantoran Walikota Jl. Fl. Tobing, seketika rekan-rekan sejawat terperangah dan kagum dengan aksi gesit yang dilakukan Pak Hasibuan.

Tak disangka tak diduga ternyata pimpinan yang ramah senyum dan terkenal familiar ini telah telah melakukan suatu gebrakan seperti yang dilakukan oleh pabrik semen padang, yakni telah melakukan dan melaksanakan sementara orang lain belum terfikir untuk mengerjakannya alias mati diangan-angan. Bapak Hasibuan ternyata mengendarai sepeda onthel dari Kantornya di Dispenda ke Perkantoran Jl. Fl.Tobing. “Alamak………..”

Pak Hasibuan turun dari sepeda dan memparkirkan sejajar dengan kenderaan bermotor yang telah ada sebelumnya dilokasi itu. Kehadiran sepeda yang ramah lingkungan tampak anggun berdiri bersanding dengan sepeda motor yang boros minum bensin setiap harinya. Terlihat jajaran parkir yang fenomenal bagi orang yang melihatnya.

“Apa kabar Fahri,” sapa Pak Hasibuan pada teropongkaca.
“Kabar Baik Pak” balas teropongkaca.
“Wah…keren sepedanya ya pak ..???”
“Ha..ha.a.a.ha…” Pak Hasibuan membalas dengan tawa lepas dan ramah sambil menyapa rekan-rekan sejawat yang telah memperhatikan dari tadi. Kemudian kami terlibat dalam perbincangan ringan tentang sepeda yang baru saja dikendarai oleh Pak Hasibuan.Teropongkaca sibuk memfoto dan melirik dan memperhatikan setiap jengkal sepeda tersebut.

Ini baru gebrakan yang membumi, kendati memiliki kenderaan roda empat Pak Soritua Hasibuan ternyata bila mengunjungi SKPD atau unit kerja yang tidak terlalu jauh posisinya dari Kantor Dispenda langsung saja mengayuh sepeda ontelnya tanpa ragu dan sungkan, baik itu kegiatan rapat ataupun sekedar kunjungan biasa. Hal ini diutarakannya kepada teropongkaca. “Wah….wah……salut dan bangga nech…”

Ini baru gebrakan nyata, yang dilakukan langsung oleh seorang pimpinan dan patut dicontoh. Bila hal ini dilakukan sepertiga saja dari jumlah rekan sejawat yang tinggal di kota ini maka semakin meriahlah kota kita ini, dampak yang langsung nyata adalah naiknya pasaran sepeda tua he.ehe.ehe.e..e.e..

Salut dan Bangga kepada Bapak Soritua Hasibuan…!!!
Apa ada rekan-rekan yang berminat mengendarai sepeda dari rumah ke kantor ???

Label:

Rabu, April 30, 2008

SELAMAT SGBC

Cerita ini dikutip dari milisnya SGBC "SELAMAT SGBC" dari Bapak Bakri Ketua Persyarikatan Onthel Lampoeng (POL)

Selamat atas terbentuknya SGBC yang dipromotori oleh Sahabat lamakuBp. Afifi Lubis, semoga bertambah terus anggotanya.Benar cerita Bp. Afifi Lubis, begitu aku lihat di Milis Sepeda WordPress berita SGBC dan dimotori oleh Bp. Afifi Lubis aku langsungmencari nomor telepon Bp. Afifi lubis dengan menanya kepada sahabatkuyang sudah seperti adikku karena aku dulu selalu dirumahnya bermaindengan abangnya (Pardinal) yang saat ini menjadi istri Bp. Afifi danlangsung tali bersambut kami telah lama sekali tidak bertemu munginlebih dari 15 tahun mungkin ada 20 tahun dan aku sangat bersyukurbisa berkomukasi walaupun melalui telepon.Saat ini aku sangat bangga begitu melihat di Sibolga telah terbentukSGBC, walaupun kini aku jauh berada di Bandar Lampung (ujungSumatera) namun jiwaku tetap merasa masih anak SIBOLGA dan inginmendaftar sebagai anggota SGBC, sekarang aku di Lampung membentukwadah perkumpulan sepeda tua (POL) Persyarikatan Onthel Lampoeng dandipercaya sebagai ketua.Mudah mudahan SGBC tetap jaya, dan apabila ada waktu aku akan keSibolga dan ikut ngontel bersama SGBC.Salam dari Bakri (Kiyuk) Lampung.

Label:

Kamis, April 24, 2008

eeh...... ketemu lagi...!!

Ini kisah yang ditulis oleh Wakil Walikota Sibolga, Bapak H. Afifi Lubis, SH
dikutip dari milisnya SGBC














Kuaget campur gak nyangka kalau SGBC udah mendunia,bahkan udah jadi
sarana mempertemukan sahabat yg udah lama gak
ketemu. ceritanya begini ..... Rabu
23042008 at 10.00 Wib, ring tone SMS nyalak isinya :"Pak,aku lihat
di wordpress nya internet, di sibolga ada SGBC,kita punya hobby yg
sama". Aku ragu kalo yg ngirim tu my friend yg di Bandung yg udah
lama gak ketemu (15 Taon). eehh.. ternyata benar.. dia BAKRI, kini
gak di Bandung lagi tapi udah di Lampung. Aku tanya ke dia "Tumben
koq bisa ngubungin, angin apa yg buat". jawabnya "KERETA ANGIN"
alias sepeda gaeck. Ternyata dia ngakses di internet di wordpress
dia lihat aku begitu gagah diatas kereta angin.dan katanya dia juga
members sepeda gaeck yg tergabung dalam POL (Persyarikatan Ontel
Lampung). lantas buru-buru aku buka wordpress.. Oh..my God,
ternyata benar.. SGBC udah mendunia dan udah mempertemukanku dgn
sahabat lama yang udah putus komunikasi.Aku gembira dan bahagia
banget Bah .......... Thak's and congratulation for the all
members, especially for HALIM CEKING, BUDI KACAMATA,PUTRA UPTSP and
FACHRI AYAT-AYAT CINTA. yang udah kerja keras nyusun milis and
bahkan nyusup ke FLIKR dll. manfaat nyata dari SGBC dan IT mulai
terasakan secara perlahan, seperti kata FACHRI :"IT ini perlu
dibudayakan" setujuuuuuuu.... Boss...But, kamu percaya jodoh kan
Fachri.. seperti Mesir dan Nil yg gak bisa dipisahkan.
BRAVO SGBC... Wujudkan dunia tanpa polusi.

by : afifilubis

Label:

Selasa, April 22, 2008

gie iseng aZa


ini kisah yang ditulis oleh Wakil Walikota Sibolga, Bapak H. Afifi Lubis, SH
dikutip dari milisnya SGBC

SGBC members i have one story for u u pada sadonyo
Para members tahu kagak? kalo ada salah satu dari members SGBC
yang ketika bertualang berburu gaeck bicycle, yang petualangannya
ampe ke tanah Barus nun jauh disono, dengan bangga dan dengan
pongahnya ngakuin bahwa gaeck bicyclenya didapat dengan harga yang
gak bolongin kantong alias.. murah bangettt.....
percakapan ini berlangsung pada suatu malam di Sibolga
Square,sambil nyeruput bandrek campur susu coklat.. slurpppppp.....
Malam itu tuh ada pembina, sang ketua "a'a Safwan", sang bidang
provokator"yosua si penyanyi cilik", Topo yang members,and yang
punya cerita, sang anggota dengan inisial "CA".
Katanya barang murah toe si dia peroleh dari seorang paralong-
along, so gaeck bicycle ntuh sepanjang sejarah hidupnya penuh dengan
penderitaan untuk ngangkat pisang, karambi, n digunakan untuk dagang
ikan keliling kampung, mulai dari pasar tarandam, kampung Solok,
Kinali, Kade gadang, sampe ke Sorkam, bisa dibayangin kan para
members penderitaan gaeck bicycle tuh???????????????.. berarti
bicycle itu punya sejarah masa lalu yang hitam.
Sang ketua lantas komentar kalo model bicycle kayak getooo gak
dibayar juga aku gak mau, abis masa lalunya kelam.Harusnya masa lalu
gaeck bicycle kita punya sejarah nan indah, for example ex noni-noni
Belanda, ex tuan demang di kebon, paling kecil ex Umar Bakri di
STOVIA, itu baru OOKKK, bukan ex paralong-along.
Kayak beli kijang kapsul, ex punya wakil kepala BI, tentunya lebih
punya nilai dibanding ex taxi 28, walau sama-sama kijang kapsul.
Sang anggota "CA" akhirnya hanya bisa mesem, yang laen pada
ngakak.Makanya coiiyy, sejarah hitam gak usah diceritain
Cherioooouuu......

dikutip dari : http://groups.yahoo.com/group/sgbc_sibolga/
by : afifilubis

Label:

Jumat, April 18, 2008

Suka Duka Pencari Sepeda Tua

Dengan Modal pengetahuan yang minim tentang sepeda tua dan berbekal refrensi dari membaca sana-sini dan membuka situs-situs tentang sepeda di internet kami bergerak dari Sibolga sekitar jam 11.00 Wib. Dengan menggunakan mobil Bang Monarizal, kami menjemput Iwan di kediamannya di Jl. SM Raja dan menyinggahi Kak Ramlah di Simpang Jalan Murai. Pak Amir dan Istri sudah mendahului berangkat menuju Sibabangun dan direncanakan menunggu di Lopian dekat galon minyak sesuai dengan kesepakatan yang telah dikonfirmasi melalui HP.

Sesampainya di daerah Lopian mobil yang dikendarai Bang Rizal bergerak pelan, tujuannya agar kami dapat mengetahui keberadaan Pak Amir dan Istri yang telah menunggu kehadiran kami. Dari kejahuan tampak mobil warna abu-abu silver. Wow...itu mobil Pak Amir. Kami berhenti dan singgah di warung pecal yang tidak jauh dari galon minyak Lopian, tampak Pak Amir menyambut dengan senyum persaudaraan. Tanpa basa-basi kami memesan pecal untuk mengganjal perut karena sudah mulai kerocongan. Ternyata pecalnya lumayan nikmat juga rasanya, bisalah untuk sekedar menjaga kesehatan. Tak terasa pecal habis dilahap tanpa sisa, ditutup dengan air teh manis hangat.


Perjalanan dilanjutkan kembali..., karena menggunakan dua unit kenderaan dan agar timbul keseimbangan penumpang saya berpindah ke mobil Pak Amir, sedangkan Iwan tetap bersama Bang Monarizal dan Kak Ramlah. Kami bergerak ke arah Lopian, dan berhenti di rumah salah seorang rekan yang menginformasikan adanya sepeda tua yang akan dijual oleh pemiliknya. Ibarat intelejen sambil berbasa-basi sedikit Kak Ramlah, bergerak cepat memberi salam dan menyusup ke kediaman pemilik sepeda tersebut. Kami menuggu dipinggir jalan dengan pertimbangan agar tidak terlalu membuat heboh tuan rumah dengan tujuan seolah-olah kedatangan utama bukan mencari sepeda tapi hanya sekedar berjalan-jalan, maklumlah strategi agar harga jual sepeda tidak dinaikkan. Seolah-olah tak butuh padahal butuh betul.

Tenyata pemilik rumah sangat ramah dan familiar menyambut kedatangan Kak Ramlah. Setelah menguasai keadaan Kak Ramlah memberi kode kepada kami dengan sedikit teriakan, dan kami segera bergegas menuju rumah itu. Tampak kerumunan dari pemilik rumah dan tetangga memperhatikan tingkah laku kami, mungkin aneh menurut pandangan mereka gaya pembawaan kami. Sekejab itu pula tuan rumah memamerkan sepeda warna hitam yang akan dilego dengan balutan tali plastik di stang dan di sadelnya. Entah apa maksud dari pemilik sepeda mengikatkan tali itu, mungkin itu tali saksi cinta pemilik sepeda sewaktu remaja tempo doloe

Bila diperhatikan sekilas dari sepeda itu, aura penderitaan terpancar melalui cat warna hitam yang sudah buram, karat serta debu laksana bedak yang digunakan seorang nenek tua kempot. Mungkin sepeda ini sudah tidak lama diacuhkan oleh tuannya, sungguh malang benar nasib jadi sepeda tua. Kedua bannya masih utuh, tapi roda depan tidak lagi memiliki sayap, dibagian belakang masih terlihat boncengan serta sayap penahan air. Kedua pedal yang digunakan untuk mengayuh juga tidak lengkap lagi alias sudah hancur-hancuran, mungkin kalo digunakan di jalan menanjak di sekitar daerah kilometer 14 alamat lepaslah dengkul nech...!!!

Bangku atau sadel sama saja parahnya dengan kelengkapan sepeda sebelumnya yang sudah diceritakan di atas. Kalau digunakan dimalam hari di jalan menurun lebih parah lagi karena sepeda ini tidak dilengkapi dinamo sebagai sumber tenaga lampu penerangan di malam hari dan tak pula memiliki rem penahan laju, bisa-bisa langsung masuk ke jurang,. Alamak.....sakitnya....penderitaan nich....!!!!

Iwan yang memiliki pemahaman lebih banyak tentang sepeda dari kami segera melakukan pendeteksian secara mendetail. Sepeda diraba dan diperiksa dengan seksama oleh Iwan, sesekali Pak Amir dan Bang Monarizal tampak pula dengan serius meneliti setiap jengkal dari sepeda yang dipertontonkan oleh pemilik rumah. Bu’Amir dan Kak Ramlah pun tak mau ketinggalan dalam memberikan komentar serta masukan tentang merk sepeda pujaan untuk suami idaman.

Setelah memakan waktu yang cukup lumayan lama, sebagai rekan yang lebih berpengalaman saudara Iwan mengambil kesimpulan bahwa sepeda itu tak layak untuk dimiliki dengan pertimbangan tidak memiliki logo dan merk yang biasaya lazim tertera dibatang sepeda. Maklumlah zaman sekarang kalau tak jelas silsilah dan keturunan, alamat sepeda awak tak akan dilirik orang apa lagi dipandang, bisa-bisa sepeda kita dikatain bekas becak barang...!!! ada-ada saja..!!!

Dengan gaya yang khas Kak Ramlah menerangkan kepada pemilik sepeda bahwa barang buruan ini tidak jadi dibeli dengan alasan merk dan logo sepeda tidak ditemukan. Sementara kami mengangguk-anggukkan kepala saja pertanda sependapat dengan yang dikatannya. Pemilik sepeda juga tidak mau ketinggalan menganggukan kepala mengikuti ritme yang kami ciptakan bersama sebagai pernyataan memaklumi alasan dan pertimbangan dari Kak Ramlah. Kami permisi kepada tuan rumah dan melanjutkan perjalanan menuju Pinangsori.

Menuju Pinangsori tepatnya di Albion kami singgah sebentar ke rumah kerabat Pak Amir. Menurut info dari Ibu Amir ada sepeda yang mau dijual oleh kerabatnya itu. Setelah ditanya pemilik sepeda ternyata bangkai sepeda sudah dijual ke tukang butut, malah dua unit. Sungguh sangat menyedihkan penjualan sepeda yang tidak direncanakan

Disepanjang perjalan kami mulai atraktif memainkan bola mata, laksana penari Bali yang mendelikkan mata mengikuti gendang, biji mata ini tidak henti memperhatian setiap jengkal bumi yang dilewati. Tiap rumah orang diperhatikan, juga bengkel-bengkel sepeda tak luput dari intaian pandangan, mana tahu ada rezeki ketemu pandang dengan sepeda buruan.

Di daerah Lumut sebelum jembatan (daerah lubuk larangan) menuju Sibabangun Kak Ramlah menghubungi aku melalui HP, “barusan aja kita lewati sepeda di depan rumah orang, apa diperhatikan tadi.” Kak Ramlah rupanya melihat juga sepeda unto yang terpampang di depan rumah orang yang kami lewati, sebenarnya saya dan Pak Amir serta Bu’Amir juga lagi membicarakan objek yang baru terlewatkan.

“Nanti aja Kak, kita singgahi’ jawabku menyarakan, dengan pertimbangan kenderaan kami telah melesat kencang jadi tidak mungkin lagi mundur kebelakang.

Menjadi penumpang di kenderaan merupakan aktifitas yang menyenangkan karena bisa melirik ke kiri dan ke kanan menikmati pemandangan, tak terasa mobil sudah sampai di Sibabangun, kenderaan kami mengarah ke kiri melewati jalan berbelok dan mendaki tanjakan. Kondisi jalan yang dilewati cukup lumayan bagus karena sudah diaspal kendati tidak terlalu nyaman. Di kiri kanan jalan masih terhampar hutan pegunungan dan perkebunan karet yang menawan, jurang dalam menganga memberi pemandangan mengerikan sehingga harus ekstra hati-hati membawa kenderaan kalau tak mau menjadi korban.

Setelah melewati jalan lebih kurang 3 KM, kami sampai di Desa Suka Laju Sibabangun. Tampak sebuah rumah yang sederhana dan lingkungan nyaman dari kejauhan. Pemilik rumah itu adalah Pak Bahar dan Istri, demikian Pak Amir memperkenalkan kepada kami. Senyum ramah dari tuan rumah menambah akraban yang baru saja terjalin. Kami istrahat dirumah Pak Bahar, sambil menikmati air kelapa muda yang baru saja diturunkan dari batangnya. Kolam yang luas terhampar dibelah kiri halaman rumah itu, Bang Monarizal dan Pak Amir ternyata membawa pancing dan peralatannya, segera saja mereka melancarkan aksinya. Acara berburu sepeda tua ini semakin seru dengan selingan memancing ikan di kolam, sangat mengasyikkan.

Setelah berbincang cukup panjang lebar, kembali kami mendapat informasi dari Pak Bahar, tetangga rumahnya juga memiliki sepeda tua yang tidak dipakai lagi dan bila berminat beliau bersedia membawa kami ke tempat sepeda dimaksud. Melalui perundingan yang singkat diambil kesimpulan yang melihat sepeda adalah Saya dan Pak Amir. Bang Monarizal, Iwan, Kak Ramlah dan Bu’Amir tetap tinggal di lokasi dengan pertimbangan sepeda yang diburu tidak lagi memiliki merk dan logo.

Kami bertiga segera mengayuhkan langkah menuju rumah yang terletak lebih kurang 75 meter dari rumah Pak Bahar. Di rumah itu Pak Bahar memperkenalkan kami kepada tuan rumah, dan seperti yang biasa-biasanya tuan rumah dengan senang hati mempersilahkan kami masuk ke kediamannya.


Sepeda warna hitam tergantung di dinding dapur ikat dengan ikatan yang kokoh. Dari tata letaknya terlihat jelas bahwa sepeda itu setiap hari terkena panas serta asap seperti ikan lele sale dari api kompor yang menyala dibawahnya, malah pada saat kami melihat sepeda itu masih teronggok nasi goreng di atas kuali dengan sedikit api yang menyala, tepat dibawah sepeda tua itu tergantung. Sungguh tampilan yang menggelikan untuk pandangan mata, menu sepeda campur nasi goreng pikirku.



Nasib sepeda ini lebih memilukan lagi, tidak memiliki roda sebagai mana lazimnya. Mungkin rodanya sudah dijual ke pasar loak karena yang punya lagi butuh duit alias BU, sehingga tak beroda. Hanya tersisa batang besi yang menyatakan bahwa ini adalah sepeda dulunya, rantai yang menjulur tak beraturan, sadel yang aduhai, ditambah dengan sayap depan yang sudah karatan dan lebih karatan lagi dibandingkan dengan sepeda yang sudah diceritakan sebelumnya.

Pak Amir juga ternyata teliti memperhatikan setiap sudut dan sisi dari sepeda malang itu, tak ada bagian yang ketinggalan dari amatan dan lirikan. Mulai dari stang yang karatan, batang yang keropos hingga sayap yang berlobang-lobong diberi penilaian oleh Pak Amir. Warna hitam yang buram dan piringan rantai yang tersisa memperlihatkan beban yang berat yang telah diperankan sepeda ini, menurut info sepeda ini membawa beban karet dari perkebunan dulunya waktu zaman tempo doeloe. Sepeda ini memiliki cacat yang tak tertutupi dilihat dari bodynya. Bekas las kasar di salah satu tuas menandakan bahwa sepeda ini sudah tidak asyik lagi untuk dijadikan barang koleksi untuk dibawa berjalan-jalan. Bisa-bisa patah pula nantinya saat dibawa untuk unjuk kekuatan di tanah lapang, maksud hati mau jadi perhatian karena uniknya sepeda tua ,akhirnya jadi perhatian karena orang tua ketahuan memikul sepeda tua yang sudah ketuaan....!!!

.”..he...he...he.ee..e “

“bikin malu aja sepeda nich...!!!”

Menjelang jam 16.00 Wib, hari mulai tampak mendung, mungkin hujan akan segera turun. Akhirnya karena hari sudah menjelang petang kami sepakat untuk pulang kembali ke Sibolga, dan permisi kepada Pak Bahar sambil mengucapkan terima kasih.Perburuan sepeda diakhri dengan acara makan bersama di rumah makan di Pantai Indah Kalangan.

Wah......!!! ternyata cari sepeda tua sukar juga ya...apa ada tau info harga sepeda tua, dan bagaimana ciri-cirinya klasiknya....? trus kalau kita cari sepeda tua apa memang harus ada merknya ya, tertulis di sepeda itu agar badan kita sehat ???? !!! tolong kasih info....yach.....”

April 2008

Label: