Epistemologi Tauhid Menyangkal Dialetika Marx (bagian 1)

December 31st, 2009

Oleh : Zul Azmi Sibuea

bulan-bintang

Tulisan ini merupakan terjemah-rangkum dan adaptasi dari postscript karya Masudul Alam Choudhury dalam bukunya “Comparative Economic Theory, Oksidental and Islamic Perspective”, Kluwer Academic Publishers, Norwell, Massachusetts, USA. 1999. Choudhury pada tulisan ini secara rinci merefutasi dialektika Karl Marx memanfaatkan metode dialektika, kemudian menginduksi epistemologi Tauhid pada pandangan-dunia dengan proses interaksi, integrasi dan evolusi kreatif terhadap tatanan sosio-saintifik yang menjadi dasar wawasan-dunia bagi perkembangan ekonomika Islami. Tulisan ini bermanfaat mengasah pemikiran dialektika kita dalam upaya injeksi atau endogenisasi etika kedalam politik ekonomi ditengah sekaratnya ekonomi kapitalis dan neo-liberal yang menjadi panutan ekonomi banyak negara, tidak terkecuali di Indonesia. Rangkuman ini terdiri atas (4) bagian, isi wacana termuat pada bagian (1) s/d (3), sedangkan bagian (4) hanya memuat kesimpulan, lampiran dan referensi bacaan.

PENDAHULUAN

Kajian ilmiah mengenai fenomena sebagai proses dalam pemikiran Barat manfaatkan metodologi dialektika. Dalam perkembangan kemudian, metodologi dialektika masuk dalam karya filsafat ilmu pengetahuan Muslim klasik setelah mendapat pengaruh dari mazhab peripatetik Yunani (Nasr 1992). Sampai dengan masa kita dewasa ini perdebatan antara pengikut wawasan-dunia berdasarkan keseimbangan dan optimal Pareto dalam upayanya menjelaskan teori ilmu pengetahuan berorientasi proses masih tetap berlangsung. Hal ini menjadi pusat perhatian teori baru termodinamika, genetika, dan terutama ekonomi evolusioner (Prigogine 1980, Hull 1990, Nelson & Winter 1982, Georgescu-Roegen 1971).

Disisi lain, model berfikir Islami dalam menjelaskan fenomena sosio-saintifik bangkit kembali dengan lebih bugar, berbeda dan unik, yang dapat dikatakan masih dalam masa pertumbuhan. Penyelidikan mengenai sosio-saintifik Islami ini menjadi penting karena memberi dampak dan jangkauan yang lebih luas. Tulisan ini merupakan intisari hasil perdebatan diantara ekonom Muslim yang melihat wawasan-dunia Islami dari sisi interaksi sistemik (Choudhury 1996).

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah : Apakah wawasan-dunia Islami dapat menjadi premis pada metodologi dialektik ?, atau Apakah terdapat pendekatan penyelidikan ilmiah yang mengasumsikan semua dimensi baru didasarkan epistemologi Keesaan Ilahiyah ?. Tidak banyak diantara pemikir Muslim kontemporer intensif melibatkan diri dengan ihwal ini, kendati pemikir Muslim terdahulu menduduki kedua posisi sebagai filsuf rasional dan relijius selama periode klasik Islam (Qadir 1990).

TUJUAN

Tulisan ini menginvestigasi metodologi yang menggunakan wawasan-dunia dan berorientasi proses dengan epistemologi Tauhid. Memanfaatkan dialektika sebagai alat untuk mendirikan kerangka epistemologi evolusioner. Wacana fokus pada bidang politik ekonomi, kemudian diskusi perbedaan tajam antara metodologi Tauhid dan dialektika Marxist-Hegelian (Ferry 1992). Setelah menetapkan perspektif teoritis melalui pendekatan orientasi proses dilakukakan pengujian terhadap berbagai contoh dalam pencerahan kedua premis yang saling berlawanan.

EPISTEME KESATUAN

Perbedaan utama sosio-saintifik yang didasarkan atas wawasan-dunia Islami dengan epistemologi Tauhid dan dengan metode dialektik dapat dijelaskan sebagai berikut : Wawasan-dunia Tauhid mengakui premis pengetahuan par excellence baik secara ontologis maupun epistemologis. Dengan ini tatanan kemanusiaan akan di organisasi secara fungsional dalam kerangka kesatuan yang terefleksi pada kesamaan-diri dihadapan Ilahiah dalam semua ranah kognitif. Ranah kesadaran kognitif Tauhid akan memompakan kebajikan secara ekstensif terhadap agen anthropik (manusia sebagai pelaku), variable sosio-ekonomi, dan hubungan antar sub-sistem dalam kehidupan. Gambaran integral dari premis kehidupan kognitif ini mendapat emanansi pengetahuan dan menyatu pada premis Kesatuan melalui Hukum Ilhiyah, dalam hal ini disebut “sistem”. Dengan demikian sistem selalu berkaitan erat dengan kedua essensi kosmologis dan essensi ekologis.

Phase pertama dari struktur sosio-saintifik adalah realisasi interaksi sistemik (ijtihad). Pada phase ini kehadiran anthropik mendapat emanasi pengetahuan secara komprehensif dalam sistem. Interaksi sistemik yang dibawa para agen, akan membangun dinamika saling pengertian, menghasilkan tata-cara serta manfaat pengalaman empiris untuk tujuan kebaikan bersama yang terlahir dari pengetahuan dengan premis epistemologi Tauhid. Dengan demikian aksioma Kesatuan merupakan elemen yang selalu tersedia permanen dalam setiap wacana, investigasi bagi kedua dorongan kebajikan pembentukan pranata hukum sosial dan imperatif Kesatuan dalam semua rincian proses kreasi untuk penataan sosio-saintifik.

Phase kedua dari struktur sosio-saintifik berorientasi proses adalah unifikasi pengetahuan yang dicapai melalui wacana, observasi, penemuan dan pengalaman empiris. Phase ini disebut juga phase konsensus sosial atau munculnya kesatuan pandangan dari berbagai interaksi (ijtihad). Interaksi formasi pengetahuan ditata bersesuaian dengan Hukum Ilahiah (Sunnat al-Allah) dan dikaitkan dengan dengan tuntunan Nabi Muhammad (Sunnat ar-Rasul) yang diperlukan untuk memperoleh pemahaman Hukum Ilahiyah. Dengan episteme seperti ini karakter dari wacana, observasi dan temuan serta pengalaman empiris akan mencapai premis Kesatuan yang konvergen. Manifestasi phase kedua ini, berlangsung dalam dan melalui observasi dengan peningkatan pengetahuan dan didasarkan pada Al- Qur’an dengan apa yang disebut dengan tanda Kekuasaan Allah (ayatu al-Allah), sehingga secara kognitif memunculkan ranah sosio-saintifik berbasis-pengetahuan dalam bentuk penyempurnaan Kesatuan-dunia (al-Alamin) berazaskan epistemologi Tauhid.

Phase ketiga, wawasan-dunia dari struktur sosio-saintifik berorientasi proses, berlangsung menuju Kesatuan epistemologi evolusioner yang diturunkan dari Al-Qur’an. Nampak disini emanasi pengetahuan akan membentuk stok pengetahuan yang dinamis dalam sistem, yang sangat ditentukan oleh interaksi dan integrasi dalam kontinum, sehingga melahirkan evolusi yang mempunyai karakteristik automatik. Dengan demikian epistemologi evolusioner akan beregenerasi melalui proses unifikasi pengetahuan yang sama melalui interaksi yang ekstensif, dimana premis pada setiap peningkatan pengertian Tauhid melalui keterkaitan antara Sunnat al-Allah dan Sunnat ar-Rasul diaplikasikan sdehingga membentuk sistem-dunia (al-alamin).

Integrasi antara dua sumber fundamental dari episteme Kesatuan terdiri atas “inti” dari Hukum Islam (Syari’ah), kini menjadi sistemik secara essensial, bukan sekedar pro-forma, atau sekedar pemenuhan legalistik belaka (Hasanuzzaman undated). “Inti” dari pada syari’ah tetap dalam keadaan immutable (tidak mutasi) dan essensil sebagai inti Keesaan Ilahiah. Tetapi diluar inti diakkomodasi diskursus yang terbuka dan detail.

Proses sosio-saintifik muncul dan di autentikasi dengan metodologi interaktif kesamaan-diri dihadapan Ilahiyah sebagaimana dijelaskan diatas. Kemudian ranah yang diemanasi pengetahuan ini muncul dan dikonfirmasi secara evolusioner yang terefleksi dengan sendirinya dengan kekuatan antrophik yang komfrehensif oleh Keesaan Ilahiah sebagai premis ontologi dan epistemologi pada setiap fenomena. Tahap ketiga kemudian menjadi sebuah evolusi kreatif dan menjadi proses yang semakin baik dan semakin mendekati tatanan Tauhid yang pada akhirnya menimbulkan kreasi yang innovative (Khalqin Jadid).

Kesinambungan dari ketiga struktur simultan diatas, yaitu interaksi, integrasi dan evolusi (IIE) pada wawasan-dunia Tauhid dan berorientasi proses terdapat dalam keseluruhan sistem kehidupan (al-alamin). Kesinambungan IIE dijelaskan dengan proses berulang ketiga fase yang tetap utuh. Setiap proses yang lengkap merupakan representasi dari tatanan relasional extensif yang menjadi premis pada epistemologi Tauhid dalam kesatuan pengetahuan yang diturunkan dari ayat-ayat pada surat Syura dalam al-Qur’an, lihat lampiran. Relasi wawasan dunia Tauhid yang berorientasi proses diatas secara sederhana dijelaskan sebagai berikut :

Proses Syura

{Tauhid (Sunnat al-Allah) $ Sunnat ar-Rasul} = Inti Syari’ah = epistemologi Tauhid

Þ [aliran pengetahuan = refleksi kreatif Syari’ah] (ijtihad)

Þ dunia (al-alamin) = interaksi mengarah pada integrasi = kesatuan pengetahuan (ijma)

Þ evolusi kreatif menuju kesamaan-diri (Khalqin jadid / kreasi innovative)

Note :

simbol $ adalah himpunan bagian, dan simbol Þ adalah string ke proses berikut, inti sari dari hukum Tuhan dalam kitab suci (firman) adalah pengakuan Tauhid, sunnah rasul (sunnah) merupakan himpunan bagian dari firman dalam Qur’an. Karena Tuhan adalah Yang Maha Tahu maka semua pengetahuan yang terserap pada inti syariah /Tauhid, berkat kemurahan-Nya maka pemgetahuan-Nya akan mengalir/emisi kepada makhluk dalam bentuk pengetahuan, setiap diri memperoleh refleksi pengetahuan (ijtihad), pengetahuan diri menghendaki interaksi dengan diri lain untuk kemaslahatan bersama dalam bentuk kesepakatan/konsultasi (ijma), tindakan yang didasarkan atas ijma merupakan integrasi bila dikaitkan dengan kehadiran diri dan kelompok sosial masyarakat, akan terevaluasi seiring dengan berlalunya waktu, dengan itu perbaikan tindakan masa lalu dengan masa kini disebut sebagai evolusi kreatif atau khalqin jaded atau kreasi innovative) diringkas menjadi : Tauhid (Sunnat al-Allah) $ Sunnat ar-Rasul Þ ijtihad Þ ijma Þ evolusi kreatif

Penjelasan Proses Syura diatas sekaligus memberi gambaran umum konsep ijtihad, ijma dan syura dalam rangkaian yang sistematik. Proses ini menjadi precept atau keharusan imperative dari Syura seperti digariskan dalam Al-Qur’an (Surat 42, ayat 49-53) Choudhury, 1998). Lihat appendix penurunan Proses Syura dari Al-Qur’an.

Sebuah catatan dari penjelasan mengenai Proses Syura diatas adalah bahwa wawasan-dunia berorientasi proses muncul dari epistemologi Tauhid yang tetap permanent sebagai basis mempersatukan semua keseimbangan alami pada evolusi pengetahuan. Oleh karena itu secara logis kita tidak dapat menerima kondisi pareto optimal pada analisis sosio-saintifik Islami karena struktur permanent dari orientasi proses dalam kontinum evolusioner berbasis pengetahuan.

Wawasan dunia dengan metodologi berorientasi proses dengan “ evolutionary equillibria” berbasis pengetahuan terjadi dalam kontinum yang berinteraksi sistemik yang dapat dipertimbangkan sebagai kontribusi yang substantif untuk kedua kebutuhan sosio-saintifk dan sebagai metodologi yang berlawanan dengan metoda dialektik yang digunakan pada pengertian orientasi proses pada pemikiran Barat demikian pula oleh rasionalis Muslim.

METODE DIALEKTIK

Sebagaimana penjelasan diatas, pada metode dialektik terdapat juga aspek unifikasi, tetapi hanya berlangsung terbatas pada tingkat intra-sistem dengan epifenomena khusus yang muncul pada pemikiran rasionalisme. Disini struktur sosio-saintifik dipandang sebagai organisme yang karakteristiknya terefleksi pada agen anthropik individual, institusi, kontrak sosial dengan proses dinamika DNA (pembawa sifat) yang berkompetisi, berlawanan dan saling meniadakan satu sama lain. Kemudian dari proses evolusi terintegrasi intra-sistemik organisme inilah kemudian definisi keseluruhan wawasan-dunia dialektik diturunkan.

Misalkan pada sebuah proses dialektik berorientasi divergen mengandung sub-sistem yang konflik, maka hal ini akan menjadi premis pada epistemologi dalam metode dialektiknya, keadaan seperti ini dikenali oleh Schumpeter sebagai “perusakan kreatif atau creative destruction” (Schumpeter 1962). Tobin mencatat, setelah melakukan analisa terhadap “under-employment dari Keynes” dan menyatakan didalamnya tercakup keadaan stability of persistent instability” (Tobin 1972). Karena premis pada metode dialektik rasional, metodologi individualis, konflik dan evolusi non-konvergen dapat diterima.

Diskusi yang muncul kemudian adalah wawasan-dunia pada metode dialektik akan membawa perubahan yang mendasar dan sensasional dimana eksistensi ontologi tidak lagi dapat diterima. Konsekuensinya, dasar-dasar epistemologi juga mengalami penataan ulang dan kebanyakan digantikan oleh penentuan premis yang berkompetisi dan memberi respons yang mendikte untuk dapat bertahan demi kelangsungan hidupnya serta memberi kekuatan episteme sampai konflik metodologi dialektik berakhir. Metodologi ini di proyeksikan oleh Popper dalam doktrin konjektur Open Society (Popper 1965) dan gagasan Einstein dalam formulasi teori ilmiah (Holton 1979).

Bersambung ke ….(2)

2 Responses to “Epistemologi Tauhid Menyangkal Dialetika Marx (bagian 1)”

  1. sibolga Says:

    kunjungan dari jauh

  2. ???????? Says:

    ??

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word