Senin, Juni 23, 2008

Bersepeda Ke Pantai Pandan

“Kring...Kring...!!! SGBC....!!! Yes....!!!”

Hari minggu, 22 Juni 2008 kedati menjelang subuh Kota Sibolga diguyur hujan deras ternyata tidak menyurutkan hari para onthelis Sibolga Gaeck Bicyle Club (SGBC) untuk melakukan aktifitas touring wisata ke Pantai Pandan yang berjarak sekitar lebih kurang 10 Km dari pusat Kota Sibolga. Sekitar jam 06.30 bertitik tolak dari pelataran parkir Stadion Horas sekitar sektar 50 orang pecinta sepeda tua di Kota Sibolga dibawah binaan Afifi Lubis yang juga Wakil Walikota Sibolga bergerak menyusuri jalan SM.Raja menuju Pantai Pandan tepatnya Hotel Bumi Asih.

Kayuhan irama para anggota SGBC beriring berjalan mengendarai sepeda unto sambil sesekali bercanda dengan rekan lainnya. Keunikan yang nyata dirasakan saat salah seorang peserta touring Abdi Chussy memutar musik dengan irama india melalui MP3 dibantu dengan loudspeaker menggelegar membuat perjalanan menjadi meriah dan santai. Sesekali onthelis bergoyang di atas sepeda sambil mengikuti irama musik yang berdendang dan mendayu-dayu.

Setibanya di Pantai Pandan-Hotel Bumi Asih peserta penggemar sepeda tua di kawasan Pantai Barat Sumatera ini dengan cekatan dan sigap memparkirkan sepeda masing-masing di palataran yang cukup luas dan asri. Tanpa dikomandokan dan seperti sudah menjadi kebiasaan para anggota SGBC untuk menyusun dan merapikan tata letak parkir sepeda, terlihat jajaran sepeda yang rapi dan mempesona.

Untuk melonggarkan otot dan urat yang tegang karena telah menempuh perjalanan sejauh 10 KM para onthelis Kota Sibolga ini menyempatkan diri untuk mengikuti pendinginan tubuh secara bersama-sama. Acara pendinginan dan peregangan tubuh ini dipandu salah seorang peserta. Tampak guyonan dari para peserta karena teknik yang diajaran oleh sang instruktur tak jauh beda dengan latihan sepak bola. Ada peserta tersenyum-senyum karena ada yang menghitung 1 sampai 8 dengan berbagai ragam bahasa. Ada yang menghitung pakai bahasa Inggirs, ada juga yang menggunakan bahasa Sibolga.Macam-macamlah gaya tingkah laku peserta.



Disaat perut keroncongan seperti yang sudah-sudah menu “mie gomak” ala Sibolga plus nasi lamak adalah menu favorit para perserta. Disajikan oleh dua orang srikandi cantik yang didaulat sebagai pramusaji dadakan menambah keakraban perserta. Dengan lahap peserta melibas habis tanpa tersisa hidangan yang tersedia. Konsumsi ini dipersiapkan oleh pengurus bidang “Salero” ogek Ujang.



Setelah kenyang mengisi perut, masing-masing perserta touring mencari aktifitas masing-masing. Ada yang menyusuri pantai, ada juga perserta bercanda dan berdiskusi kecil membahas perkembangan sepeda. Sementara itu terlihat peserta wanita berputar-putar mengendarai sepeda ontel menikmati suasana pantai yang membentang luas.




Pagi mulai berlalu matahari siang pun menjelang memancarkan cahaya, peserta touring kembali ke Kota Sibolga dibawah guyuran hujan gerimis. Semakin deras gerimis, semakin kuat pula kayuhan sepeda unto anggota SGBC. Tubuh yang segar dan bugar menghinggapi para onthelis Kota Sibolga.

“Kring...Kring...!!! SGBC....!!! Yes....!!!”

Label:

Sabtu, Juni 21, 2008

Pantai Ujung Sibolga


Setelah lelah bekerja seharian, duduk di tepi pantai dihembus semilir angin "serasa diayun selendang bidadari" adalah suasana sensasional yang diperoleh saat kita berkunjung di "Pantai Ujung Sibolga" Begitu dijejakkan kaki di pantai ini segera akan tercium aroma air pantai yang mengadung garam seumpana "aroma therapi" yang lagi digandrungi oleh orang perkorkataan.

Menuju lakasi ini kita harus melalui Perkuburan Umum dan Aliran sungai Aek Doras. Di Pantai ujung Sibolga ini terdapat muara yang merupakan pertemuan air laut dengan aliran Sungai Aek doras yang mengalir dari daerah perbukitan disekitar Sibolga Julu, sehingga semakin menambah pemandangan eksotis bagi orang yang melaluinya.

Lokasi ini merupakan tempat wisata favorit yang digandrungi oleh warga kota, karena terletak dipusat perkotaan Kota Sibolga. Tidak mengherankan apabila disore hari hingga menjelang tengah malam pantai ini dikunjungi oleh penikmat wisata pantai. Lokasi ini semakin semarak setelah diterangi oleh lampu penerangan yang memadai.


Berbagai aktifitas warga masyarakat di pantai ini, ada yang hanya sekedar duduk-duduk sambil membentuk kelompok kecil bercerita kesana kemari, ada yang hanya menikmati pemandangan menunggu matahari tenggelam. Tidak ketinggalan anak-anak remaja yang mencintai sepak bola bergiat melalukan pertandingan bola antar kampung, memang lokasi ini memungkinkan untuk bermain sepak bola ala kadarnya sekedar untuk mengeluarkan keringat.


Dampak positif yang langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar adalah bergeraknya perekonomian keluarga. Dengan ditatanya daerah pantai ini, warga masyarakat yang berkunjung tentunya membutuhkan jasa penyewaan tikar dan juga makanan dan minuman ringan. Dampak timbal balik yang terjadi adalah bergairahnya perekonomian rakyat.


Anda berminat ayo segera datangi dan nikmati "Pantai Ujung Sibolga" sekarang juga, jangan tunggu lama-lama.

Label:

Sabtu, Juni 14, 2008

Belajar Sopan Dikira Kurang Ajar

Cerita ini di tulis oleh "Alex Hutauruk (T-rex De Lex-A)


Kami (Anak2 Tugas Belajar Dari Kota Sibolga) pertama kali menapakkan kaki di Kota Bandung. Yang kita tahu sendiri dimana Kota Bandung sangat berbeda dengan keadaan Kota Sibolga, mulai dari cuaca yang sejuk {meski tak se sejuk dahulu (katanya seh)}, cewek-cewek / anak gadisnya (yang mmm…..) sampai budayanya yang berbeda dengan kampong halaman kami (kotaku yang hangat meski terlalu panas) dan cara berbicara yang tidak terlalu keras.

Kami yang tiba disini ada 13 orang terdiri dari 11 laki-laki dan 2 wanita perkasa (yang mampu bertahan hidup dengan 11 laki-laki). Biasanya kalau yang datang secara rombongan pastinya permulaan melakukan kegiatan bertahan hidup (makan) secara bersamaan. Kalau sudah terbiasa baru berani sendiri (one man show). Untuk urusan One Man Show kita singgung lain kali aja,he..he..he.

Kami tiba di bandung sudah larut malam dan dalam kondisi lelah+kelaparan, untungnya disini banyak tukang nasi goreng keliling yang sedia setiap saat (dalam 5 menit pasti ada yang lewat) jadi kami makan malamnya pake nasi goreng yang pastinya ada dari kami yang sudah masuk angin apalagi ditambah makan nasi goreng yang hasilnya bisa kita tebak (sattabi muttut). Tapi apa boleh buat itu aja yang bisa dimakan dari pada ga makan.

Besoknya sarapan karena belum tau dimana tempatnya, senior kami yang sudah ada di sini mengantarkan kami makan di warung yang lumayan enak dan murah (meski kurang cocok dengan lidah yang telah terbiasa dengan andaliman dan rimbang). Makan disini layaknya makan di pesta ala france (ambil-ambil sendiri). Kami cukup terkejut tapi dicoba untuk ga di tunjukkan takut katanya kampungan. Saat makan ada teman yang makan sambil memesan teh manis dingin ada juga yang memesan jus, maklumlah kalo selera setiap orang berbeda.

Saat memesan teh manis dingin, kakak yang melayani kayaknya terkejut mendengar kata Teh Manis dingin, akhirnya kami diberitahu bahwa disini namanya es teh. Ya udah bertambahlah kosakata kami. Dan kami diberitahu juga bahwa kalau mau panggil seseorang wanita yang lebih tua panggilannya “teteh”, kalau permisi jangan lupa bilang “punten” kalau ada yang bilang punten jawabnya “mangga”. Senang mendapat kosakata baru banyak yang mulai mengaplikasikannya dikehidupan sehari-hari.

Selang beberapa hari mulai banyak yang coba jalan dengan kelompok kecil (2-3 orang gitulah) soalnya untuk belanja keperluan pribadi. Kami ber3 sehabis jalan-jalan untuk coba tahu lingkungan sekitar, ga sadar bahwa sudah sore dan perut sudah ber-rock n roll ria minta diisi makanan. Kami singgah di tempat makan yang biasa kami singgahi kalau perut kami mulai melakukan konser tunggalnya.

Kami mulai makan dengan santainya, diiringi cerita tentang kebiasaan teman-teman yang lainnya yang baru saat ini diketahui karena tidurnya sama. Ada yang cerita kalau di kamar sebelah setiap malam kamar itu menjadi tempat latihan paduan suara (soalnya yang tidur semuanya ngorok dan berirama naik turun), ada yang cerita teman satu kamarnya kalau tidur selalu jualan minyak goreng (ngiler).

Saat kami makan, Saprizal/ rizal salah seorang teman kami yang postur badannya paling halus memesan teh manis hangat (belum tau kalau disini entah apa namanya ) dan meneruskan makannya. Anehnya saat dipesan sampai kami selesai makan dan rehat sejenak di tempat tersebut (± 1 jam) teh manis yang dipesan tidak kunjung di suguhkan, rizal yang ga mau ambil pusing tidak menghiraukan hal tersebut.

Saat kami membayar makanan yang kami makan di kasir, yang menerima uang kami adalah kakak/teteh yang dimintai tolong saprizal untuk menyediakan teh manis, dan yang anehnya lagi setelah kami membayar pada giliran rizal raut wajah teteh tersebut langsung berubah 180˚ dari senyum menjadi manyun. Apa boleh buat kita ga tau apa yang salah yah kami cabut aja ga menghiraukannya.

Saat berjalan pulang kami penasaran dengan apa yang diperbuat rizal yang membuat senyum menjadi manyun. Kami tanya si rizal, dia juga merasa heran. Terakhir aku tanya apa yang di katakannya tadi. Rizal Cuma bilang “Teh, teh manis satu” dan hanya bilang itu saja.

Setelah mendengar itu langsung aja semua berfikir apa ada yang salah dengan perkataan rizal itu. Seketika semua tertawa mendengar penjelasan teman-teman yang ada. Bahwa Teteh tersebut telah salah persepsi dengan apa yang dikatakan rizal. Rizal bilang “Teh, teh manis satu”(dengan logat sibolga campur logat sunda yang marpasir-pasir ) dan kemungkinan besar telinga si teteh yang belum terbiasa dengan logat tersebut mendengar ucapan “Teteh Manis” dan kemungkinan besarnya lagi si teteh dalam hati kesal dengan rizal dan dalam hatinya berkata “Sialan nih anak, masih kecil udah berani ngegombal”.

Bertambahlah satu lagi ilmu kami disini yaitu “Kalau belum tahu pasti, apalagi agak susah jangan dicoba” ya itu MAU BELAJAR SOPAN DIKIRA KURANG AJAR. Coba lain kali di lain kesempatan. He..he..he…….

Label:

Jumat, Juni 13, 2008

Jogging Di Simaremare



Sore itu matahari mulai condong ke ufuk barat mengikuti rotasi yang dibuat penciptanya seolah-olah akan segera menyentuh bibir laut yang ada di arah Pulau Poncan Gadang dan Pulau Poncan Ketek. Pancaran sang surya petang itu kendati masih terik tidak mengurangi semangat warga kota yang ada di pantai barat Pulau Sumatera ini untuk melakukan aktifitas olah raga.

Posisi lapangan Simaremare dilingkari oleh jalan raya, namun tidak terlalu padat dilalui oleh kenderaan bermotor. Tepat ditengah-tengah pusat pemerintahan sangat mendukung untuk dijadikan sebagi pusat olah raga jogging oleh warga kota. Di daerah ini terdapat perkantoran Walikota, Kantor Bank Indonesia juga Kantor RRI Sibolga sehingga tidak terlalu sibuk dan ramai di sore hari serta didukung kawasan ini bukan sebagai pemukiman warga.

Tidak diketahui secara pasti sejak kapan bundaran jalan di lapangan Simaremare ini dijadikan masyarat sebagai pusat olah raga jogging. Namun yang pasti setiap sore mulai sektar jam 16.00 petang sudah mulai terlihat kerumunan warga lari maraton di bundaran jalan lapangan Simaremare hinggah menjelang sang surya tenggelam dengan berbagai pola dan gaya serta tingkah.

Terlihat warga masyarkat baik usia tua,muda, laki dan wanita terutama didominasi oleh para remaja mengayunkan langkah membuat hentakan irama berjogging ria. Semuanya tampak larut dalam olah raga petang itu. Ada yang berlari seperti kuda, kencang sekencang-kencangnya hingga tak menghiraukan pecandu jogging yang lain sambil mendengarkan musik MP3 melalui head set yang tercantol di kedua telinga . Ada pula yang berlari terbirit birit seperti orang yang lagi sakit perut mencari bilik termenung istilah malaysia dengan keringat basah tiada terkira. Namun bila dilihat kaum tua hanya berjalan kaki saja sambil sekali-sekali mengayunkan kedua tangan hingga tak terkira hitungannya, mungkin menghilangkan gejala penyakit stroke dan gula yang mulai mewabah. Macam-macamlah gaya pelaku dan penikmat olah raga joging sore itu, kadang menimbulkan geli dan senyum bila diperhatikan dengan seksama.



Dapat dimaklumi bersama bahwa sebagian masyarat Sibolga mulai menyadari olah raga adalah merupakan vitamin kebutuhan untuk menciptakan kebugaran tubuh. Kesadaran inilah yang harus dipupuk bersama hingga menjadi budaya. Salut dan bangga dengan aktifitas ini.

Salah seorang warga pecinta olah raga jogging yang ditemui teropongkaca mengharapkan agar sekitar lapang simaremare dijadikan sebagai pusat jogging yang representatif misalnya dengan memperbanyak tanaman pohon hijau yang lebih ridang agar terasa sejuk dan nyaman juga dengan membuat trek atau jalur khusus di dalam areal lapangan simaremare. Dengan tertatanya lokasi ini maka icon pusat jogging di kota Sibolga akan tercipta dan dikenang sepanjang masa.Sungguh ini ide yang sangat menarik...!!

Label: