Belajar Sopan Dikira Kurang Ajar
Cerita ini di tulis oleh "Alex Hutauruk (T-rex De Lex-A)

Kami (Anak2 Tugas Belajar Dari Kota Sibolga) pertama kali menapakkan kaki di Kota Bandung. Yang kita tahu sendiri dimana Kota Bandung sangat berbeda dengan keadaan Kota Sibolga, mulai dari cuaca yang sejuk {meski tak se sejuk dahulu (katanya seh)}, cewek-cewek / anak gadisnya (yang mmm…..) sampai budayanya yang berbeda dengan kampong halaman kami (kotaku yang hangat meski terlalu panas) dan cara berbicara yang tidak terlalu keras.
Kami yang tiba disini ada 13 orang terdiri dari 11 laki-laki dan 2 wanita perkasa (yang mampu bertahan hidup dengan 11 laki-laki). Biasanya kalau yang datang secara rombongan pastinya permulaan melakukan kegiatan bertahan hidup (makan) secara bersamaan. Kalau sudah terbiasa baru berani sendiri (one man show). Untuk urusan One Man Show kita singgung lain kali aja,he..he..he.
Kami tiba di bandung sudah larut malam dan dalam kondisi lelah+kelaparan, untungnya disini banyak tukang nasi goreng keliling yang sedia setiap saat (dalam 5 menit pasti ada yang lewat) jadi kami makan malamnya pake nasi goreng yang pastinya ada dari kami yang sudah masuk angin apalagi ditambah makan nasi goreng yang hasilnya bisa kita tebak (sattabi muttut). Tapi apa boleh buat itu aja yang bisa dimakan dari pada ga makan.
Besoknya sarapan karena belum tau dimana tempatnya, senior kami yang sudah ada di sini mengantarkan kami makan di warung yang lumayan enak dan murah (meski kurang cocok dengan lidah yang telah terbiasa dengan andaliman dan rimbang). Makan disini layaknya makan di pesta ala france (ambil-ambil sendiri). Kami cukup terkejut tapi dicoba untuk ga di tunjukkan takut katanya kampungan. Saat makan ada teman yang makan sambil memesan teh manis dingin ada juga yang memesan jus, maklumlah kalo selera setiap orang berbeda.
Saat memesan teh manis dingin, kakak yang melayani kayaknya terkejut mendengar kata Teh Manis dingin, akhirnya kami diberitahu bahwa disini namanya es teh. Ya udah bertambahlah kosakata kami. Dan kami diberitahu juga bahwa kalau mau panggil seseorang wanita yang lebih tua panggilannya “teteh”, kalau permisi jangan lupa bilang “punten” kalau ada yang bilang punten jawabnya “mangga”. Senang mendapat kosakata baru banyak yang mulai mengaplikasikannya dikehidupan sehari-hari.
Selang beberapa hari mulai banyak yang coba jalan dengan kelompok kecil (2-3 orang gitulah) soalnya untuk belanja keperluan pribadi. Kami ber3 sehabis jalan-jalan untuk coba tahu lingkungan sekitar, ga sadar bahwa sudah sore dan perut sudah ber-rock n roll ria minta diisi makanan. Kami singgah di tempat makan yang biasa kami singgahi kalau perut kami mulai melakukan konser tunggalnya.
Kami mulai makan dengan santainya, diiringi cerita tentang kebiasaan teman-teman yang lainnya yang baru saat ini diketahui karena tidurnya sama. Ada yang cerita kalau di kamar sebelah setiap malam kamar itu menjadi tempat latihan paduan suara (soalnya yang tidur semuanya ngorok dan berirama naik turun), ada yang cerita teman satu kamarnya kalau tidur selalu jualan minyak goreng (ngiler).
Saat kami makan, Saprizal/ rizal salah seorang teman kami yang postur badannya paling halus memesan teh manis hangat (belum tau kalau disini entah apa namanya ) dan meneruskan makannya. Anehnya saat dipesan sampai kami selesai makan dan rehat sejenak di tempat tersebut (± 1 jam) teh manis yang dipesan tidak kunjung di suguhkan, rizal yang ga mau ambil pusing tidak menghiraukan hal tersebut.

Saat berjalan pulang kami penasaran dengan apa yang diperbuat rizal yang membuat senyum menjadi manyun. Kami tanya si rizal, dia juga merasa heran. Terakhir aku tanya apa yang di katakannya tadi. Rizal Cuma bilang “Teh, teh manis satu” dan hanya bilang itu saja.
Setelah mendengar itu langsung aja semua berfikir apa ada yang salah dengan perkataan rizal itu. Seketika semua tertawa mendengar penjelasan teman-teman yang ada. Bahwa Teteh tersebut telah salah persepsi dengan apa yang dikatakan rizal. Rizal bilang “Teh, teh manis satu”(dengan logat sibolga campur logat sunda yang marpasir-pasir ) dan kemungkinan besar telinga si teteh yang belum terbiasa dengan logat tersebut mendengar ucapan “Teteh Manis” dan kemungkinan besarnya lagi si teteh dalam hati kesal dengan rizal dan dalam hatinya berkata “Sialan nih anak, masih kecil udah berani ngegombal”.
Label: kehidupan



4 Komentar:
Thanks. Im Inspired again.
If im in the situation of the owner of this blog. I dont know how to post this kind of topic. he has a nice idea.
hebat x lah crita kombur bung Alex bah...sambil terpingkal2 dq mbacanya, palagi klo denger crita klen ttg jualan minyak goreng di tengah malam...lanjutkan post klen
Buat alex : Mantap kali Bah, ceritakan lebih banyak lagi dong, ya CS, kemudian buat : bang zulfahri, semoga blog ini sukses dan jadi yang terbaik. Ok
Posting sebuah Komentar
Link ke posting ini:
Buat sebuah Link
<< Halaman Muka