Suka Duka Pencari Sepeda Tua
Dengan Modal pengetahuan yang minim tentang sepeda tua dan berbekal refrensi dari membaca sana-sini dan membuka situs-situs tentang sepeda di internet kami bergerak dari Sibolga sekitar jam 11.00 Wib. Dengan menggunakan mobil Bang Monarizal, kami menjemput Iwan di kediamannya di Jl. SM Raja dan menyinggahi Kak Ramlah di Simpang Jalan Murai. Pak Amir dan Istri sudah mendahului berangkat menuju Sibabangun dan direncanakan menunggu di Lopian dekat galon minyak sesuai dengan kesepakatan yang telah dikonfirmasi melalui HP.
Sesampainya di daerah Lopian mobil yang dikendarai Bang Rizal bergerak pelan, tujuannya agar kami dapat mengetahui keberadaan Pak Amir dan Istri yang telah menunggu kehadiran kami. Dari kejahuan tampak mobil warna abu-abu silver. Wow...itu mobil Pak Amir. Kami berhenti dan singgah di warung pecal yang tidak jauh dari galon minyak Lopian, tampak Pak Amir menyambut dengan senyum persaudaraan. Tanpa basa-basi kami memesan pecal untuk mengganjal perut karena sudah mulai kerocongan. Ternyata pecalnya lumayan nikmat juga rasanya, bisalah untuk sekedar menjaga kesehatan. Tak terasa pecal habis dilahap tanpa sisa, ditutup dengan air teh manis hangat.
Perjalanan dilanjutkan kembali..., karena menggunakan dua unit kenderaan dan agar timbul keseimbangan penumpang saya berpindah ke mobil Pak Amir, sedangkan Iwan tetap bersama Bang Monarizal dan Kak Ramlah. Kami bergerak ke arah Lopian, dan berhenti di rumah salah seorang rekan yang menginformasikan adanya sepeda tua yang akan dijual oleh pemiliknya. Ibarat intelejen sambil berbasa-basi sedikit Kak Ramlah, bergerak cepat memberi salam dan menyusup ke kediaman pemilik sepeda tersebut. Kami menuggu dipinggir jalan dengan pertimbangan agar tidak terlalu membuat heboh tuan rumah dengan tujuan seolah-olah kedatangan utama bukan mencari sepeda tapi hanya sekedar berjalan-jalan, maklumlah strategi agar harga jual sepeda tidak dinaikkan. Seolah-olah tak butuh padahal butuh betul.

Tenyata pemilik rumah sangat ramah dan familiar menyambut kedatangan Kak Ramlah. Setelah menguasai keadaan Kak Ramlah memberi kode kepada kami dengan sedikit teriakan, dan kami segera bergegas menuju rumah itu. Tampak kerumunan dari pemilik rumah dan tetangga memperhatikan tingkah laku kami, mungkin aneh menurut pandangan mereka gaya pembawaan kami. Sekejab itu pula tuan rumah memamerkan sepeda warna hitam yang akan dilego dengan balutan tali plastik di stang dan di sadelnya. Entah apa maksud dari pemilik sepeda mengikatkan tali itu, mungkin itu tali saksi cinta pemilik sepeda sewaktu remaja tempo doloe
Bila diperhatikan sekilas dari sepeda itu, aura penderitaan terpancar melalui cat warna hitam yang sudah buram, karat serta debu laksana bedak yang digunakan seorang nenek tua kempot. Mungkin sepeda ini sudah tidak lama diacuhkan oleh tuannya, sungguh malang benar nasib jadi sepeda tua. Kedua bannya masih utuh, tapi roda depan tidak lagi memiliki sayap, dibagian belakang masih terlihat boncengan serta sayap penahan air. Kedua pedal yang digunakan untuk mengayuh juga tidak lengkap lagi alias sudah hancur-hancuran, mungkin kalo digunakan di jalan menanjak di sekitar daerah kilometer 14 alamat lepaslah dengkul nech...!!!
Bangku atau sadel sama saja parahnya dengan kelengkapan sepeda sebelumnya yang sudah diceritakan di atas. Kalau digunakan dimalam hari di jalan menurun lebih parah lagi karena sepeda ini tidak dilengkapi dinamo sebagai sumber tenaga lampu penerangan di malam hari dan tak pula memiliki rem penahan laju, bisa-bisa langsung masuk ke jurang,. Alamak.....sakitnya....penderitaan nich....!!!!

Iwan yang memiliki pemahaman lebih banyak tentang sepeda dari kami segera melakukan pendeteksian secara mendetail. Sepeda diraba dan diperiksa dengan seksama oleh Iwan, sesekali Pak Amir dan Bang Monarizal tampak pula dengan serius meneliti setiap jengkal dari sepeda yang dipertontonkan oleh pemilik rumah. Bu’Amir dan Kak Ramlah pun tak mau ketinggalan dalam memberikan komentar serta masukan tentang merk sepeda pujaan untuk suami idaman.
Setelah memakan waktu yang cukup lumayan lama, sebagai rekan yang lebih berpengalaman saudara Iwan mengambil kesimpulan bahwa sepeda itu tak layak untuk dimiliki dengan pertimbangan tidak memiliki logo dan merk yang biasaya lazim tertera dibatang sepeda. Maklumlah zaman sekarang kalau tak jelas silsilah dan keturunan, alamat sepeda awak tak akan dilirik orang apa lagi dipandang, bisa-bisa sepeda kita dikatain bekas becak barang...!!! ada-ada saja..!!!
Dengan gaya yang khas Kak Ramlah menerangkan kepada pemilik sepeda bahwa barang buruan ini tidak jadi dibeli dengan alasan merk dan logo sepeda tidak ditemukan. Sementara kami mengangguk-anggukkan kepala saja pertanda sependapat dengan yang dikatannya. Pemilik sepeda juga tidak mau ketinggalan menganggukan kepala mengikuti ritme yang kami ciptakan bersama sebagai pernyataan memaklumi alasan dan pertimbangan dari Kak Ramlah. Kami permisi kepada tuan rumah dan melanjutkan perjalanan menuju Pinangsori.
Menuju Pinangsori tepatnya di Albion kami singgah sebentar ke rumah kerabat Pak Amir. Menurut info dari Ibu Amir ada sepeda yang mau dijual oleh kerabatnya itu. Setelah ditanya pemilik sepeda ternyata bangkai sepeda sudah dijual ke tukang butut, malah dua unit. Sungguh sangat menyedihkan penjualan sepeda yang tidak direncanakan
Disepanjang perjalan kami mulai atraktif memainkan bola mata, laksana penari Bali yang mendelikkan mata mengikuti gendang, biji mata ini tidak henti memperhatian setiap jengkal bumi yang dilewati. Tiap rumah orang diperhatikan, juga bengkel-bengkel sepeda tak luput dari intaian pandangan, mana tahu ada rezeki ketemu pandang dengan sepeda buruan.
Di daerah Lumut sebelum jembatan (daerah lubuk larangan) menuju Sibabangun Kak Ramlah menghubungi aku melalui HP, “barusan aja kita lewati sepeda di depan rumah orang, apa diperhatikan tadi.” Kak Ramlah rupanya melihat juga sepeda unto yang terpampang di depan rumah orang yang kami lewati, sebenarnya saya dan Pak Amir serta Bu’Amir juga lagi membicarakan objek yang baru terlewatkan.
“Nanti aja Kak, kita singgahi’ jawabku menyarakan, dengan pertimbangan kenderaan kami telah melesat kencang jadi tidak mungkin lagi mundur kebelakang.
Menjadi penumpang di kenderaan merupakan aktifitas yang menyenangkan karena bisa melirik ke kiri dan ke kanan menikmati pemandangan, tak terasa mobil sudah sampai di Sibabangun, kenderaan kami mengarah ke kiri melewati jalan berbelok dan mendaki tanjakan. Kondisi jalan yang dilewati cukup lumayan bagus karena sudah diaspal kendati tidak terlalu nyaman. Di kiri kanan jalan masih terhampar hutan pegunungan dan perkebunan karet yang menawan, jurang dalam menganga memberi pemandangan mengerikan sehingga harus ekstra hati-hati membawa kenderaan kalau tak mau menjadi korban.
Setelah melewati jalan lebih kurang 3 KM, kami sampai di Desa Suka Laju Sibabangun. Tampak sebuah rumah yang sederhana dan lingkungan nyaman dari kejauhan. Pemilik rumah itu adalah Pak Bahar dan Istri, demikian Pak Amir memperkenalkan kepada kami. Senyum ramah dari tuan rumah menambah akraban yang baru saja terjalin. Kami istrahat dirumah Pak Bahar, sambil menikmati air kelapa muda yang baru saja diturunkan dari batangnya. Kolam yang luas terhampar dibelah kiri halaman rumah itu, Bang Monarizal dan Pak Amir ternyata membawa pancing dan peralatannya, segera saja mereka melancarkan aksinya. Acara berburu sepeda tua ini semakin seru dengan selingan memancing ikan di kolam, sangat mengasyikkan.

Setelah berbincang cukup panjang lebar, kembali kami mendapat informasi dari Pak Bahar, tetangga rumahnya juga memiliki sepeda tua yang tidak dipakai lagi dan bila berminat beliau bersedia membawa kami ke tempat sepeda dimaksud. Melalui perundingan yang singkat diambil kesimpulan yang melihat sepeda adalah Saya dan Pak Amir. Bang Monarizal, Iwan, Kak Ramlah dan Bu’Amir tetap tinggal di lokasi dengan pertimbangan sepeda yang diburu tidak lagi memiliki merk dan logo.

Kami bertiga segera mengayuhkan langkah menuju rumah yang terletak lebih kurang 75 meter dari rumah Pak Bahar. Di rumah itu Pak Bahar memperkenalkan kami kepada tuan rumah, dan seperti yang biasa-biasanya tuan rumah dengan senang hati mempersilahkan kami masuk ke kediamannya.
Sepeda warna hitam tergantung di dinding dapur ikat dengan ikatan yang kokoh. Dari tata letaknya terlihat jelas bahwa sepeda itu setiap hari terkena panas serta asap seperti ikan lele sale dari api kompor yang menyala dibawahnya, malah pada saat kami melihat sepeda itu masih teronggok nasi goreng di atas kuali dengan sedikit api yang menyala, tepat dibawah sepeda tua itu tergantung. Sungguh tampilan yang menggelikan untuk pandangan mata, menu sepeda campur nasi goreng pikirku.

Nasib sepeda ini lebih memilukan lagi, tidak memiliki roda sebagai mana lazimnya. Mungkin rodanya sudah dijual ke pasar loak karena yang punya lagi butuh duit alias BU, sehingga tak beroda. Hanya tersisa batang besi yang menyatakan bahwa ini adalah sepeda dulunya, rantai yang menjulur tak beraturan, sadel yang aduhai, ditambah dengan sayap depan yang sudah karatan dan lebih karatan lagi dibandingkan dengan sepeda yang sudah diceritakan sebelumnya.
Pak Amir juga ternyata teliti memperhatikan setiap sudut dan sisi dari sepeda malang itu, tak ada bagian yang ketinggalan dari amatan dan lirikan. Mulai dari stang yang karatan, batang yang keropos hingga sayap yang berlobang-lobong diberi penilaian oleh Pak Amir. Warna hitam yang buram dan piringan rantai yang tersisa memperlihatkan beban yang berat yang telah diperankan sepeda ini, menurut info sepeda ini membawa beban karet dari perkebunan dulunya waktu zaman tempo doeloe. Sepeda ini memiliki cacat yang tak tertutupi dilihat dari bodynya. Bekas las kasar di salah satu tuas menandakan bahwa sepeda ini sudah tidak asyik lagi untuk dijadikan barang koleksi untuk dibawa berjalan-jalan. Bisa-bisa patah pula nantinya saat dibawa untuk unjuk kekuatan di tanah lapang, maksud hati mau jadi perhatian karena uniknya sepeda tua ,akhirnya jadi perhatian karena orang tua ketahuan memikul sepeda tua yang sudah ketuaan....!!!
.”..he...he...he.ee..e “
“bikin malu aja sepeda nich...!!!”
Menjelang jam 16.00 Wib, hari mulai tampak mendung, mungkin hujan akan segera turun. Akhirnya karena hari sudah menjelang petang kami sepakat untuk pulang kembali ke Sibolga, dan permisi kepada Pak Bahar sambil mengucapkan terima kasih.Perburuan sepeda diakhri dengan acara makan bersama di rumah makan di Pantai Indah Kalangan.

“Wah......!!! ternyata cari sepeda tua sukar juga ya...apa ada tau info harga sepeda tua, dan bagaimana ciri-cirinya klasiknya....? trus kalau kita cari sepeda tua apa memang harus ada merknya ya, tertulis di sepeda itu agar badan kita sehat ???? !!! tolong kasih info....yach.....”
April 2008
Label: sepeda





6 Komentar:
sepeda Unto!! yg terlintas dipikiran kita (Tua,lama,unik dan tempoe duloe) wajar donk ga semudah pencarianya. jg ingat ke 25thn yg lalu kakek ane py sepeda itu tp yah ga tau rimbanya. mmh.. ascyik jg petualangannya..^ ada saran kayanya coba pencarian diputar ke arah mujur timber, kolang, ato sorkam (mm,, kayanya ascyik toch..)
irta
Lah ini ide yang genius dari mbak Irta..ayo...Pak Amir, Bang Monarizal dan Ogek Iwan kita cari ke daerah kolang sepeda unto tuch.......Sabtu, Minggu ya kita lanjut cari buruan baru.
Terima Kasih ya Mbak Irta
kayanya asik jg kalo gabung dikomunikas sepeda UNTO, but anehnya kita (cewek) kanyanya lucu yah.. pake sepeda itu body sepeda yg kurang pass utk dipakai cewek..??
Mbak Irta...aku udah survei... tentang sepeda onta. Untuk cewek ada koq malah keren lagi bentuknya. Kawan kita Ogek iwan juga udah ngambil 1 untuk cewek.Apa Mbak Irta berminat agar kami cari, tapi bukan gratis loh...??
ya.. kalo dari qt tunggu anggota cwknya byk dulu dech.. :)
ayo rekan2 sekretariat (ceweknya) gabung semuanya ke SGBC
seruu tuch..
Irta
Jangan tunggu lama-lama, langsung aja cari dan bawa sepeda ontanya.Kalo boleh mbak Irta jadi First Lady dalam keanggotaan sepeda onta di SGBC. Gimana ini ketua SGBC...??
Posting sebuah Komentar
Link ke posting ini:
Buat sebuah Link
<< Halaman Muka